Cerita Dibalik Hujan #2

Turun-lah hujan, sampailah aku di depan resto alam indah. Dua hari yang lalu dia mengajakku meluangkan waktu untuk sekedar menikmati secangkir kopi. Aku langsung saja setuju dengan ajakan pertemuan ini, “Alam Indah” dia memastikan tempat kita akan berjumpa. Bulan Februari ini tepat dua tahun aku dan dia sepakat untuk berpisah. Jika kembali mengingat perpisah itu rasanya sungguh hal yang kekanak-kanakan. Aku dan dia berpisah sebab tak lagi saling percaya. Ada alasan mengapa kita berdua tak lagi saling percaya yaitu, nyamannya pekerjaan masing-masing. Hubungan kita memang sudah terbilang sangat lama, awalnya kita memang saling memahami situasi pekerjaan yang ada, kita saling memberi motivasi, saling menguatkan dan saling berdiskusi pekerjaan yang berbeda.

Aku seorang jurnalis di salah satu redaksi, dan ia adalah seorang pejuang yang siap mati ditengah lautan luas. Waktu, itupun jadi alasan mengapa kita tak lagi saling percaya. Jarak waktu berjumpa kita bisa dihitung jari dalam satu tahun. Bagi aku sebuah hubungan dengan jumlah pertemuan yang sangat sedikit membuat aku berpendapat itu adalah hubungan yang kurang baik. Dia sempat tidak setuju dengan pendapatku, baginya jarak bukanlah alasan untuk sebuah hubungan. Selagi ada komunikasi segala hal apapun itu bisa terjalin dengan baik. Aku tak bisa menyalahkan pendapatnya. Namun, aku bisa membenarkan pendapatnya tentang jarak dan komunikasi. Komunikasi aku dan dia pun terbilang sangatlah jarang. Hampir setiap kali sesuatu hal yang menimpaku tak pernah ia tahu, dia hanya tahu saat hal itu sudah sampai batas selesai.

Sudahlah, itu hanya alasan masa lalu yang membuat aku memilih untuk berpisah dengannya dan memilih untuk hidup sendiri. Jika hari ini aku memenuhi ajakannya itu sebagai tanda santunku kepada seorang teman lama. Tidak lebih dari sekedar teman lama.

Kedua bola mataku terarah kepojok meja menghadap kedepan jendela resto, langkahku terhenti sejenak untuk kembali mengatur jatung yang sedang berdetak keras. Masih ada rasa jantung berdetak keras, masih ada rasa malu bersimpan, masih ada rasa rindu yang tersisa dan akan ada rasa canggung.

Tubuhku telah duduk diam dihadapan dia. Senyum itu masih seramah dulu dengan bola mata penuh keteduhan. Belum satu kalimat terucap dari bibir kita, masih ingin menikmati suasana pertemuan dibalik hujan.

“Bagaimana kabarmu?” kalimat canggung terlontar darinya. Dia pun merasakan kecanggungan. Sebaliknya aku pun sama.

“Baik. Kau apa kabar?” singkat aku menjawabnya.

“Seperti yang kau lihat.”

“Ya, kau sangatlah baik.”

“Masih dengan profesi lamamu?”

“Ya. Masih.”

“Gila.”

“Maksudmu?” aku sedikit tersinggung dengan ucapannya.

“Iya. Kau ini gila, mengapa masih bertahan dengan profesi yang sangat tidak menyenangkan. Kenapa tak kau pilih pekerjaan lain.”

“Ini pilihanku.”

“Iya. Pilihan yang aneh. Kenapa tak bekerja diperusahaan? Dengan fasilitas yang sangat nyaman.”

What?”

Yes. You stupid!

Aku terdiam dengan perasaan tak menyenangkan. Ini yang ia inginkan? Bertemu hanya untuk bertengkar? Masih dengan pendapat yang sama! Pekerjaanku sama sekali tidak bisa ia dia pahami.

“Sorry. Tetaplah disini

“Jika ajakan ini hanya untuk menghinaku, maaf aku memilih untuk pergi.”

Sorry. Aku emosi. Aku masih tidak menyangka saja kau bertahan dengan pekerjaan itu. Apa tidak ada kerjaan lain? Selain sibuk mencari permasalahan orang lain?”

“Dan, kau adalah orang yang membuat masalah!”

“Aku hanya ingin menyadarkanmu saja! Kalaupun itu membuatmu marah, lupakan.”

“Lupakan? Semudah itu kau membuat orang marah, setelah itu kau menyuruh melupakan. Mungkin, lebih baik aku pergi dan tak lagi menerima ajakanmu untuk bertemu. Terima kasih aku tak bisa membuang waktu untuk manusia sepertimu. Selamat sore!”

“Hai. Aku merindukanmu!”

Seketika aku terhenti dengan kalimat rindunya, nafasku beradu dengan detak jatung yang begitu keras. Pipiku hampir saja memerah. Ini kebiasaannya! Membuatku marah, lalu kembali meluluhkan hatiku.

“Teteplah disini. Setidaknya aku ingin menikmati secangkir kopi denganmu.”

“Maaf aku harus pergi.”

Dia menarik tanganku, menahan langkahku. Semakin keras detak jantungku. Kali ini aku benar-benar kalah dengan kalimat rindunya. Mengapa aku harus menemuinya? Dan merasakan kembali perasaan ini. Dua tahun aku mencoba melupakannya dengan kesibukanku. Dan, kini dia kembali dan semudah ini aku luluh dengan kerinduannya.

“Duduklah. Maafkan aku.”

Kembali aku duduk diam dihadapannya. Senyum itu kembali dia berikan untuk mengubur kemarahanku kepadanya.

“Nae, kau masih seperti dulu. Sangat keraskepala.”

Aku diam memperhatikanya. Masih sedikit gengsi untuk membalas perkataannya.

“Masih marah? Maaf, aku hanya ingin bernostalgia dengan keraskepalamu. Sudah cukuplah aku merindukan keraskepalamu.”

“Apa maksudmu? Mau menghinaku?”

“Tidak. Jangan kau marah kepadaku. Minumlah.”

“Aku tak suka dengan perkataanmu. Mengapa kau selalu meremehkan pekerjaanku? Ada yang salah dengan pekerjaanku?”

“Sebenarnya tidak. Mungkin, aku hanya terbawa harapanku yang dulu. Aku ingin kau menjadi wanita seutuhnya.”

“Maksudmu? Wanita utuh?”

“Bagaimana ya cara aku menjelaskan. Takutnya kau mengira aku menghinamu atau mengatur-ngatur kehidupanmu.”

“Tak apa. Bukankan kau begitu?”

“Kau masih ingat saja dengan kebiasaanku? Kebiasaan yang membuatmu memilih  untuk berpisah denganku.”

“Apa yang kau maksud dengan wanita utuh?”

“Hemmmm,…. wanita yang bersedia bekerja sebagai ibu dan mengerjakan pekerjaan rumah.”

“Itu sudah aku pikirkan.”

“Kau akan berhenti dengan pekerjaanmu? Aku ikut senang.”

“Tidak. Aku kan tetap mempertahankan pekerjaanku.”

“Ah, kau ini mengapa keras kepala?”

“Mengapa kau begitu peduli?”

“Karna aku memang sangat peduli padamu.”

“Omongkosong!”

“Nae, sungguh aku sangat peduli kepadamu. Dan, aku sangat peduli pula dengan tulisanmu.”

“Tulisan?”

“Ya. Kau sedang fokus dengan kasus kematian seorang wanita berinisial “N” aku tak pernah ketinggalan dengan tulisan-tulisanmu. Dan, kali ini aku sangat peduli dengan kasus yang sedang kau tulis.”

“Mengapa? Kau juga tertarik dengan kasus itu? Aku hanya ingin menuntut keadilan saja.”

“Tapi, Nae.”

“Kenapa? Terlalu berbahaya? Ah, itu sudah biasa.”

“Apa kau ingin mengungkap pelakunya?”

“Ya. Ini sedang proses hukum. Masih belum bisa dipastikan siapa pelakunya”

“Mengapa kau sangat antusias?”

“Dan, mengapa kau banyak tanya tentang kasus itu? Apa hubunganmu?”

“Nae, aku peduli denganmu.”

“Oke. Terima kasih. Aku hanya ingin membantu.”

“Membantu? Ia wanita pelacur, Nae?”

“Ia manusia seperti kita! Sejak kapan niat membantu harus membeda-bedakan?”

“Ya. Setidaknya kau cari tahu latar belakang masalahnya.”

“Aku sudah tahu semuanya. Makanya, aku ingin menuntaskan kasus ini. Entah, pelacur dan entah siapapun itu. Sebuah pembunuhan yang sangat kejam harus mendapatkan keadilan. Apa kau tahu bagaimana nasib keluarganya? Apakah kau tahu alasan ia menjadi pelacur? Dan, aku yakin tidak ada yang peduli.”

“Aku mengkhawatirkanmu. Hentikan  tulisanmu. Kau tulislah kasus lain, Nae.”

Aku terdiam dengan permintaannya, ada sebuah rahasia yang sedang dia sembunyikan.

Oke. Waktuku sudah cukup untuk berjumpa denganmu dan aku harus melanjutkan pekerjaanku.

“Nae, ku mohon hentikan kau tulis kasus itu.”

“Mengapa? Kau terlibat?”

Kulihat dia terdiam oleh kalimat tuduhanku. Ada raut duka terlihat dari arah sorot matanya yang sendu. Terlalu kejam perkataanku kah?

“Hentikan, Nae. Ku mohon.”

“Mengapa? Aku hanya ingin meminta keadilan untuk wanita itu. Ia seorang wanita yang wajib mendapatkan keadilan. Aku tak pernah memandangnya sebagai pelacur, ia tetap wanita ciptaan Tuhan yang harus mendapatkan keadilan. Dan, aku sangat mengenal sosoknya.”

Rasanya aku ingin memaki lancang kepadanya, rasa marah yang kini menebal dan  sudah tak mampu lagi aku pendam dalam. Dua bulan ini aku menulis sebuah kasus dan berharap kasus ini bisa selesai dengan hasil keadilan hukum yang bijaksana. Sedangkan, pada kenyataannya hukum akan menang jika uang itu berbicara. Dan hukum akan mengalahkan mereka, manusia lemah uang.

“Dan, aku tahu kau adalah anak pelacur itu.”

Dia semakin terdiam mendengar pekataanku. Sudah cukup lama aku mengetahui asal-usul wanita itu. Bagaimana terkejutnya aku pertama kali mengetahui Doni adalah anak satu-satunya wanita itu, aku lihat foto Doni terpasang pada diding rumah kontrakannya. Waktu itu aku mengenalnya sebagai narasumberku, dua kali aku berjumpa dengan wanita itu. Setelah perjumpa yang kedua aku mendapatkan kabar bahwa ia meninggal di kontrakannya dengan tubuh tak lengkap. Entah, dimana kepalanya dibuang oleh pelaku pembunuhan. Entah, dimana kedua kakinya dibuang oleh pelaku pembunuhan. Itu pembunuhan yang sangat kejam. Apa salah ia? Mengapa ia dibunuh? Ia hanya wanita bisu yang berprofesi sebagai pelacur. Kecacatannya yang membuatnya tidak dapat pekerjaan layak. Ia butuh makan, ia butuh hidup dengan lembaran kertas dan ia pun pernah berjanji padaku. Jika tabungannya telah tercukupi ia akan membuka salon khusus wanita muslim. Ada sisi kebaikan yang aku dapatnya darinya, aku anggap ia tak mencari uang haram. Tak pantas jika ia dihina dan tak mendapatkan keadilan.

“Aku akan menangkap pembunuhnya. Jika kau tak suka, aku tak perduli.”

Ku lihat rautnya semakin memucat. Sebenarnya ada rasa tak tega kepadanya. Sebab, masih ada rasa peduli yang aku simpan. Dia adalah laki-laki yang pernah aku cinta. Tapi, sebuah keadilan tak mungkin aku samakan dengan perasaan cinta yang dulu pernah aku berikan kepadanya.

“Nae, aku siap untuk kau tuntun keadilan itu. Sebab, akulah yang otak pembunuhan itu dan membuang bagian tubuhnya untuk menyatu bersama gelombang laut.”

*******

“Suamiku membawa pergi anak lelakiku setelah aku bangkrut dan tak lagi berharta.” Ungkap wanita itu kepadaku.

Ruang Naera

“Bisa jadi dihadapamu adalah orang yang paling jahat. Sebab, jika niat jahat telah mengalir bersama darah disitulah belaskasih telah musnah.”

Komen Artikel