Daun Jatuh Di Halaman Rumah

Setiap hari, menjelang pagi dan menjelang senja Runi selalu menyapu halaman rumah, membersihkan dedaunan yang terjatuh dari dua pohon mangga yang menjulang tinggi. Di halaman rumah Runi terdapat pohon buah mangga yang tumbuh musiman, memiliki akar ranting daun yang lebat. Dedaunan lebat yang rapuh mudah terjatuh oleh angin dan hujan.

“Walah-walah Mbak. Jangan terlalu rajin dengan deduanan itu! Mau disapu berapa kali dalam sehari, tetap saja akan mengotori rumah kamu.” Ujar Bu Tarmi tetangga sebelah rumah yang membuka warung makan khas Padang.

“Gak apa-apa bu, biar gak kelihatan angker rumahnya.” Sahut Runi kepada Bu Tarmi yang berdiri didepan warung makannya dengan membawa plastik berisi sampah, dengan tawa kecil.

“Ini kok tukang sampah belum ngambil sampah kemarin. Sudah dibayar kok tidak rajin. Rugi dong!” Ujar Bu Tarmi yang sedang kesal dengan tukang sampah langgananya.”

“Mungkin, sebentar lagi, Bu. Hujan baru saja reda.” Sahut Runi kepada Bu Tarmi.

“Iya, Mbak. Dari semalam hujan. Padahal ini sudah musim panas loh, tapi masih saja hujan seharian. Ya sudah silahkan dilanjut bersih-bersihnya mbak Runi.” Ujar Bu Tarmi melangkah masuk kembali kedalam rumah.

Runi memandangi daun menguning yang baru saja lepas dari ranting dan terjatuh dihadapannya. Mudah sekali dauh itu tumbuh dan jatuh dari pohonnya. Sejenak Runi memandangi pohon yang menjulang tinggi dengan ribuan akar ranting berhiasan dedaunan yang begitu lebat. Tidak ada angin pun daun akan terjatuh dengan sendirinya, memilih melepaskan diri dari akar ranting pohon, sat-persatu lepas. Lalu, satu-persatu tumbuh kembali daun muda hijau yang menghiasi akar ranting. Sedangkan pohon itu akan tetap satu dengan usia yang akan semakin tua. Semakin tua semakin lebat tumbuh daunnya. Dan, semakin banyak pula dedaunan menguning dan kering akan menyampah dihalaman rumah Runi.

“Hidup berumah tangga itu masalah yang akan dihadapai itu macam-macam, bercabang seperti akar ranting pohon dengan deduanan lebat.” Ujar Mbah Tuna kepada Runi yang sedang menyisir rambut Runi secara berlahan.

“Mbok, ternyata hidup berumah tangga itu tidak mudah ya? Apalagi usia pernikahan yang masih seumur jagung! Ada saja masalah yang datang dan pergi.” Ujar Runi kepada Mbak Tuna.
“Ya. Memang begitu itu, Ndok. Masih panjang perjuanganmu untuk mendapatkan kebahagian dari pernikahan.” Sahut Mbah Tuni sambil mengelus pundak Runi yang sedang menyimpan perasaan khawatir.

“Katanya, dengan menikah akan bahagia?” Ujar Runi kepada Mbah Tuna dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan katanya. Menikah itu memang akan bahagia, tapi tetap ada perjuanganya untuk meraih kebahagian abadi. Lihat pohon itu, Ndok. Pohon itu tinggi menjulang dengan daun dan buah yang begitu lebat. Banyak yang suka dengan buah yang manis dan banyak yang tidak suka dengan daun kering yang mengotori halaman rumah. Waktu pohon itu sudah tumbuh dengan akar daun dan buahnya, akan ada daun yang rapuh dan lepas begitu saja dari pohonnya. Ada daun yang masih hijau tapi dimakan oleh ulat bulu. Lalu, buahnya pun tidak semua manis rasanya, ada yang asam juga.”

“Apa hubungannya dengan rumah tangga, Mbok?”

“Rumah tanggamu itu ibaratnya pohon. Pohon rumah tangga akan ada akar ranting permasalahan.

Tidak akan mulus begitu saja, setiap waktu akan tumbuh dauh yang baru, ibaratnya masalah baru. Jadi, tugas kamu menyelesaikan dengan solusi terbaik dan membuang masalah itu pada tempatnya. Seperti kamu membuang dauh yang setiap hari jatuh, dan sering mengotori halaman rumah. Jika, masalah itu sudah terselesaikan kamu akan menuai buahnya, bisa jadi buahnya manis atau asam. Kalau manis itu tandanya kamu bisa menyelesaikan dengan baik, tapi jika buahnya asam, tandanya kamu harus lebih berusaha lagi untuk memperbaiki keadaan rumah tanggamu, dan merawat pohon itu dengan pupuk terbaik agar mendapatkan buah yang selalu manis.”

“Pupuk terbaik, Mbok? Tanya Runi dengan penuh penasaran.

“Ndok, maksud pupuk disini yaitu cinta dan keikhlasan kamu dalam memperjuangkan sebuah pernikahan. Terapkan-lah keikhlasan dalam diri kamu, perluaslah hati kamu dengan cinta dan kesetiaanmu kepada suamimu. Berilah seluas-luasnya kepecayaanmu kepada suami untuk mendapatkan rejeki yang halal dan berkah untuk keluargamu.” Ujar Mbah Tuna menasehati Runi yang sedang bimbang.

“ Insyaallah, Mbok. Tapi masalah yang aku hadapi tidak hanya didalam rumah tanggaku, Mbok. Aku juga mengalami permasalah dari lingkungan sekitar. Terkadang aku mendengar perkata tetangga yang terlalu kejam untuk hatiku.” Ujar Runi kembali kepada Mbah Tuna.

“Semakin tinggi pohon akan semakin kencang angin yang berusaha merobohkannya.” Sahut singkat Mbah Tuna.

“Aku tahu pribahasa itu, Mbok. Tapi hatiku masih mudah tersinggung dengan permasalahan dari luar.” Ujar Runi dengan memegang tangan Mbah Tuna. Tanda keresahan hati Runi.

“Dari kecil kamu itu aku didik untuk tidak memperdulikan omongan orang lain yang berusahan menjatuhkanmu. Tidak ada untungnya kamu mendengarkan semua itu. Namanya hukum bertetangga, Ndok. Kamu siap berumah tangga dan tinggal dilingkungan manusia lain, kamu harus siap menerima hukum bertetangga yang terkadang membuat kamu berkesima senang karena pujian, dan ada kalanya kamu akan merasa tersakiti oleh ucapan orang lain. Tetap jaga hatimu. Jaga pohonmu yang semakin menjulang tinggi, kamu harus semakin kuat menjaganya. Jangan terlalu mudah menerima hal-hal yang kurang penting, yang efeknya hanya akan membuatmu resah. Ingat nasehat Mbok ini!”
Bergegas kembali Runi menyapu dedaunan yang telah terjatuh karena angin dan hujan semalam. Lalu, Runi kembali dengan rutinitas membuat sarapan pagi dan menyiapkan secangkir kopi hitam untuk suami tercinta.

********

“Mas, bangun. Kopi sudah aku buatkan.” Ujar Runi membangunkan suaminya.
Semarang, 13.03.17
Dewi Ayu

“Akan datang dan pergi. Setiap permasalahan adalah tolak ukur sebuah kematangan sikap.”

Komen Artikel