DIALOG ARLOGI

Kini aku tak pernah merasakan kesendirian, dengan keadaan sebelumnya yang membuat aku seperti manusia rimba tanpa makhluk lain. Sudah ada kau yang kini bersamaku, menyatu dengan tubuhku, bernafas denganku semua kita lalui bersama. Semua terasa begitu nyata, enam bulan kita berjalan bersama, kau merasakan apa yang aku rasanya. Saat kesedihan menghampiriku kau pun merasakan apa yang ku rasakan. Saat aku tertawa nyaring kau beribu kali bahagia dengan kegembiraanku.

Segalanya kita rasakan bersama, kau sudah mulai mengecap makanan yang aku makan, kau sudah mampu menghirup udara yang ku endus, semua kau buktikan dengan gerakan lembutmu yang terkadang membuat aku kaget dan tertawa geli. Kau seakan berlari dengan kedua kakikmu yang mulai berwujud, kau seakan menggelitiki perutku dengan kedua tanganmu yang mulai berwujud mungil, kau kini telah mampu melihat jendela cahaya yang akan membawamu kedalam dekapanku.

Kata orang aku harus menjagamu sampai sembilan bulan. Ah, mereka salah. Bukan aku yang menjagamu, melainkan kau yang menjagaku dari perasaan hatiku agar menyamarkan emosi, menjagaku untuk menutup mata dengan warna abu-abu yang sanggup menjadikanku hitam, menjagaku untuk menutup telinga agar tak mendengar suara-suara yang akan menyakitiku, dan kau menjagaku untuk selalu memilih diam saat makhluk lagi berusaha menggangguku. Seorang ibu yang sedang sedang mengandung anak didalam perutnya, pada dasarnya Ia-lah yang sedang dijaga untuk mampu mengendalikan segala perasaan dan untuk sanggup melalui proses tersulit dalam hidupnya. Proses dimana seorang wanita biasa yang akan mendapatkan kehidupan baru yang mengubah hidupnya berbeda dari sebelumnya.

Kau lebih dari segalanya, kau malaikat Tuhan yang akan membawaku melalui kehidupan baru penuh kebaikan. Entah, harus dengan kalimat apa untuk mengucapkan terima kasih dengan segala kebaikanmu menjagaku. Dan, kelak saat kehadiranmu telah nyata dengan dekapanku akan aku ceritakan tentang segala hal kehidupan yang harus kau tempuh dengan kebaikanmu. Di dunia nyata nanti adalah tugasku untuk menjagamu, untuk memperhatikanmu, untuk menasehatimu, dan untuk memberikan kasih sayang tulus yang membuatmu merasakan kenyamanan hidup.

Aku tak sabar menanti kehadiran tubuh mungilmu, biarkan alam membantuku menjagamu dengan sepenuh hati. Kita berdua berjumpa sebagai sahabat bercerita tentang kebersamaan kita selama sembilan bulan. Terbayang oleh ku, kita berdua berbincang seolah dua manusia dewasa yang saling mengingatkan dan menasehati ketika kesalahan tanpa sengaja kita perbuat. Ah, rasanya aku sudah tak sabar dengan dunia baruku bersamamu.

Terima kasih kau telah memilihku untuk melalui perjalanan ini, kau lebih dari seorang guru bagiku.

“Nak, kehidupan itu sungguh berwarna-warni dengan dua jenis rasa yang harus kau rasakan dan kau bedakan dengan bijaksana. Jalan itu masih panjang untuk kita taklukan dunia dengan merubah segalanya baik. Sebab, belum tentu orang lain akan melihat apa yang kita lakukan adalah sebuah kebaikan. Dan, aku ibumu yang ingin sekali mengingatkan bahwa akan banyak kau temui nanti manusia lain. Entah, Ia sanggup bersahabat denganmu atau bahkan Ia sebagai penghalang jalanmu. Tapi, ibu yakin kau manusia dengan kiriman roh kebaikan Tuhan yang sanggup merubah segala kegelapan menjadi cahaya surga. Nak, tolong ingatkan ibu saat ibu mulai pikun denganmu. Ingatkan ibu bahwa kau tubuh mungil yang selama sembilan bulan menyatu dengan tubuhku.”

Untuk guruku yang tengah ku kandung,

Semarang, 08 Agustus 2017

 

Komen Artikel