LELA

Aku mulai nyaman dengan pekerjaan ini. Sudah tiga tahun ini aku menjalankan pekerjaan yang hanya bermodal jasa dan penampilan. Beberapa pekerjaan sebelumnya kurang aku sukai, otak dan energi tubuh terkuras habis. Maklum, sebelumnya aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Harus membersihkan rumah majikan yang luasnya hampir sama dengan gedung senayan. Lalu, mengurus dua anak majikan yang sangat menyebalkan. Dua bulan aku bekerja dengan majikan yang super pelitnya. Tidak ada jatah makan sebelum pekerjaan rumah selesai dan tidak ada kesempatan tidur siang sebelum kedua anak majikan tertidur lelap. Selama dua bulan bekerja aku hanya mendapatkan setengah gaji saja, beberapa alasan telah memotong gajiku.

Keputusan untuk pergi secara diam-diam adalah pilihan terakhir untuk tidak mendapat pukulan atau makian dari majikan yang super galak dan pelit. Tengah malam aku pergi secara diam-diam. Siang sebelum menjemput anak majikan pulang sekolah aku menitipkan dua tas baju di pos satpam. Rudi membantuku melancarkan rencana untuk meninggalakan rumah majikan. Rudi adalah satpam komplek perumahan tempat tinggal majikanku. Ia, yang sering aku jadikan tempat mengadu kejenuhan. Mungkin, Rudi kasihan kepadaku makanya, ia mau membantu melancarkan rencanaku.

Sisa uang gajian aku gunakan untuk menyewa tempat kos. Dua minggu aku tinggal di kamar kos berukuran 2×3 meter. Jauh lebih sempit dari kamar tidurku yang ada di kampung. Ada sesal yang teramat dalam di relung hatiku. Setiap kali aku mengingat kehidupan di kampung sangatlah berkecukupan, mau apa saja tinggal bilang. Mau makan enak tinggal bilang, mau pakaian bagus tinggal bilang. Kehidupan enak itu aku rasakan sebelum Bapak meninggal dunia dan Simbok memilih menikah lagi.

Adanya aku di kota ini, tak lain dengan alasan pertama kehidupan miskin yang telah bangkrut. Simbok tertipu habis-habisan oleh suami barunya. Ya, Ayah tiri yang gemar berjudi dan main pelacur. Hampir setiap malam ia membawa pelacur-pelacurnya menginap di rumah. Aku ingin memaki dan membunuhnya. Tapi, simbok selalu melarangku. “Jangan kau bunuh Bapakmu. Aku sangat mencintainya. Kau memaki dia sama saja kau ingin melihatku mati dibunuhnya.” Kalimat Simbok membuatku sakit. Aku semakin membenci suami Simbok. Amarahku semakin benci ketika melihat Simbok di pukul habis-habisan olehnya.

Aku membunuh suami Simbok. Alasan kedua aku ada di kota ini. Simbok menyuruhku untuk segera meninggalkan kampung, setelah belati menancap tepat di jatung suaminya. “Pergilah dari rumah. Jangan sekali-kali kau kembali. Biar ini urusanku.” Setelah itu, tak lagi mendengar kabar Simbok. Aku hanya menduga-duga Simbok masuk sel penjara dengan kasus membunuh suaminya atau bahkan Simbok bunuh diri menemani kematian suami tercintanya. Entahlah, aku hanya mampu mendoakan Simbok agar selalu bahagia oleh lindungan Tuhan.

Sisa gajianku tak lagi mampu mencukupi hidup di minggu akhir bulan. Aku mulai mencari beberapa lowongan pekerjaan, beberapa lowongan pelayan cafe sudah aku coba namun tak satu pun yang menerimaku. Ijazah SMP yang aku bawa tidak bisa memenuhi syarat.

“Kau sedang mencari pekerajaan?,” tanya seorang wanita yang duduk di sebelahku. Aku hanya berdua di halte, tak ada manusia lagi yang menunggu kedatangan bis.

“Iya. Tapi, lupakan! Tak satupun bisa menerimaku karena aku hanya membawa ijazah SMP.” Sahutku kepada wanita itu.

“Mau bekerja denganku? Pekerjaan yang santai kok.” Ia tersenyum kepadaku. Menawarkan pekerjaan kepadaku.

“Paling jadi pembantu lagi!” Gerutuku dalam hati.

“Hanya pekerjaan jasa kenyamanan.”

“Benarkan jadi pembantu. Mungkin, sudah takdirku.” Gerutuku dalam hati.

“Kok diam? Bagaimana?” wanita itu kembali menawariku.

“Jadi pembantu? Tidak. Lupakan!” sahutku.

“Bukan. Enak saja pembantu. Ini lebih enak dari pada pekerjaan menjadi pembantu, kau hanya bekerja memberikan jasa kenyamanan saja. Jam kerjanya pun tak begitu menyita waktu istirahatmu. Kau boleh tinggal di rumahku atau kau tetap tinggal di rumahmu. Kau tinggal pilih.”

“Boleh. Bisa aku coba dulu, jika kau tak keberatan.”

“Boleh saja. Ini kartu namaku. Atau besok kita berjumpa lagi di halte ini. Sekalian kau ikut denganku. Mungkin, kau bisa mulai bekerja besok.”

“Boleh.”

“Sampai jumpa besok.” Ia meninggalkanku dengan sapaan senyum persahabatan.

*******

Sore dengan rintis hujan penuh keteduhan. Aku menepati janji berjumpa dengan Lela, wanita yang aku jumpai di halte siang itu. Mobil berwarna merah tepat berhenti dihapanku. Terlihat Lela di dalam mobil, ia menurunkan kaca mobil menyapaku.

“Masuklah.” Lela menyapa dan memintaku segera masuk kedalam mobilnya.

Aku masih terdiam, sesekali melirik kearah Lela yang berpenampilan sangat cantik dengan stelan baju mahal dan beberapa perhiasan dengan butiran berlian. Aku seperti sedang duduk dengan majikan di dalam mobil.

“Kenapa kau diam? Ada yang aneh?” tanya Lela kepadaku.

“Kau jauh berbeda dengan yang aku temui kemarin siang.” sahutku.

“Jauh berbeda? Ah, perasaanmu saja. Inilah aku, pakai kerjaku seperti ini. Kalau pun kau jadi bekerja denganku, kau akan berpenampilan seperti ini.”

“Berapa gajiku? Sampai aku bisa berpenampilan sepertimu?”

“Tenang saja. Asal kau mengikutiku dan mau belajar dariku. Agap saja kau sedang bertemu dengan dewi penolongmu. Itulah aku!”

“Tak ada maksud lainkan?”

“Maksudmu? Aku jahat kepadamu? Atau aku akan membunuhmu? Lalu, menjual organ tubuhmu?”

“Bukan. Bukan itu.”

“Kalau kau tak mau aku tolong. Aku bisa turunkan kau sekarang.”

“Tidak. Maaf, aku tak bermaksud membuatmu marah.”

“Jadi mau bekerja denganku tidak?”

“Iya, aku mau.”

“Baiklah. Nurut dan ikuti aku. Jangan lupa, belajarlah dari aku.”

Diam aku menikmati suasana nyaman di mobil Lela. Imajinasi mulai berkhayal tentang hal-hal mewah yang bisa aku dapatkan, seperti yang diceritakan oleh Lela kepadaku. Aku memang baru kemarin mengenal Lela. Tapi, rasanya aku seperti sudah mengenal Lela jauh lama dari pertemuan siang itu. Mungkin, benar juga Lela dewi penolongku.

Lela mengajakku ke salah satu toko baju. Koleksi baju-baju dengan harga yang melebihi gajiku saat masih menjadi pembantu. Tak ada selembar seratus ribuan di dompetku. Hanya sisa dua puluh ribu untuk makan dua hari di kos. Diam aku tanpa sepatah kata.

“Kau suka baju yang mana, Sit? Pilih saja, aku yang membayar.”

Terdiam aku. Menelan ludah mendengar tawaran Lela.

“Kau saja yang memilihkan baju untukku.” Sadar dengan diri sendiri yang tak tahu pasti baju mana yang cocok untukku pakai.

“Baiklah. Akan aku buat kau cantik.”

Aku tersenyum lega mendengarkan perkataan Lela, sesekali meledekku. “Sit, kau itu cantik. Tapi, kau tak sadar.”

Setelah membeli baju Lela mengajakku ke salon. Ia, bilang salon langgananya bisa membuat aku terlihat lebih cantik darinya. Tak ada penolakan dariku, dengan ajakan Lela. Aku hanya ingin mendapatkan pekerjaan untuk aku bertahan hidup.

“Tante, buat temanku ini cantiknya melebihiku.”

Aku kira mereka berdua memang sudah lama saling mengenal. Dari awal datang Lela tak berhenti bercanda dengan beberapa karyawan yang ada di salon.

“Nad, ini teman baru kamu?” Tanya tante itu kepada Lela. Ia memanggil Lela dengan nama Nadia. Mungkin, kepanjangan nama Lela. Itu pikirku.

“Dia saudaraku tante. Makanya buat dia cantik ya.” Sahut Lela.

“Siap Bos!” balas si tante.

********

“Kau suka dengan penampilan barumu, Sit?” Tanya Lela kepadaku.

“Suka. Hanya saja belum terbiasa.”

“Tak apa. Nanti akan menjadi terbiasa. Malam ini kau ikut aku kerja ya. Tapi, janji dulu.”

“Janji apa?”

“Jangan banyak tanya dan bicara. Belajarlah dariku!”

“Baiklah.”

Lela menyetir mobil ke arah pusat kota. Pertengahan malam, suasana pusat kota ramai dengan para manusia penuh kemewahan. Pertama kali aku menikmati pertengahan malam dengan penampilan baru yang mampu membuat mata para lelaki sesaat tak ingin mengedipkan mata. Lela mengubah penampilanku. Tak lagi ada kaos kumal dengan stelan celana jeans tak layak dipandang.

“Kau diam dan jangan banyak bicara ya, Sit. Sekarang namamu Rara. Kalau ada temanku yang ingin tahu namamu, bilang namamu Rara.”

Aku menganggukan kepala tanpa penolakan. Pintu terbuka lebar, terlihat gerlipan lampu dengan kumpulan manusia penuh dengan dendangan musik, membuat jatung berdentak kencang. Irama musik mengalun keras dengan beberapa penari wanita berbalut busana tipis. Aku melihat mereka seperti setengah telanjang. Beberapa lelaki menari-nari seirama dengan lekukan tubuh mereka. Ini parade malam yang penuh dengan kemewahan. Sempat aku melihat keramain seperti ini dilayar televisi, salah satu adegan  sinetron tentang kenakalan remaja kota. Bersama Lela aku merasakan kenyataan dari cerita sinetron yang pernah aku tonton.

“Sit, ingat namamu Rara. Jangan banyak bicara. Perbanyak diam ya.”

Lela tak hentinya mengingatkan namaku adalah Rara. Nama panggilan baru yang akan aku gunakan untuk menyapa teman-teman baru yang Lela kenalkan kepadaku.

“Panggil aku Nadia ya, Sit. Maksduku Rara.”

“Iya, Nad.”

“Bagus. Kau duduk disini. Belajar dariku.”

Pandanganku tak pernah lepas dari Nadia. Aku perhatikan setiap gerakan dan cara pekerjaan yang Nadia lakukan. Sentuhan lembut dan kepandaiannya mampu menghipnotis manusia yang memandangnya. Terutama laki-laki disini. Nadia punya paras yang cantik, keramahan sapaannya membuat laki-laki merebutkannya.

“Belajarlah dariku. Kau akan bekerja padaku.” Aku ingat terus pesan Nadia.

********

Semalam aku terus memperhatikan Nadia dengan pekerjaan yang ia tawarkan, aku hanya memiliki satu kesamaan dengannya. Bisa bernyanyi. Entah, suaraku sebagus Nadia atau tidak.

“Kau jangan terlalu banyak melamun.” Sapa Lela kepadaku.

“Aku ragu dengan pekerjaan yang kau tawarkan.”

“Kenapa?”

“Aku hanya bisa bernyanyi saja. Apa aku bisa membuat mereka nyaman?”

“Hai, suaramu bagus. Aku mendengar suaramu saat kau sedang duduk di halte waktu itu. Meski, hanya sedikit ku dengar. Aku yakin suaramu bisa lebih bagus, kalau kau mau belajar.”

“Kenapa kau baik denganku? Kau baru mengenalku.”

“Tuhan yang baik padamu. Bukan aku.”

“Nad, aku lupa. Bagaimana tentang nada. Kau tahu aku hanya lulusan SMP.”

“Santai, ada aku. Belajar denganku. Dan, kau bisa melanjutkan sekolahmu dengan gaji yang aku berikan kepadamu.”

“Sungguh, aku lupa bagaimana cara bernyanyi dengan baik. Sejak, Bapak melarangku menyanyi. Ku lupakan semua keinginanku untuk bernyanyi. Dan, kini aku berjumpa denganmu. Kembali mengingat apa yang pernah aku lupakan.”

“Dengarkan aku! Aku yang bermain piyano dan kau yang bernyanyi. Kita mulai dengan yang kau bisa saja.”

Kembali aku menikmati dunia yang telah lama aku lupakan. Sejak masuk kelas dua SMP Bapak melarangku untuk bernyanyi. Alasan Bapak sederhana, tak ingin melihat anaknya menjadi biduan dangdut dan dilecehkan banyak laki-laki. Karena Bapak sudah cukup tertekan dengan pekerjaan Simbok menjadi biduan bangdut terkenal di kampung. Cinta yang begitu besar kepada Simbok yang membuat Bapak diam tidak meminta Simbok berhenti jadi biduan. Untuk keadaan ekonomi Bapak sudah lebih dari cukup. Tapi, Simbok memang keras kepala tak memperdulikan kekhawaitran Bapak. Tekanan itulah yang membuat Bapak  tak mampu berjuang hidup dari kangker yang menggerogoti habis otak kepala Bapak.

*******

Sejak pekerjaan yang Lela berikan kepadaku, sedikit demi sedikit aku merasakan kenyamanan dan hidupku serba berkecukupan. Lela mendaftarkanku di sekolah terbuka untuk melanjutkan ketingkat SMA. Tiga tahun Lela menolongku dari jurang kehidupan yang penuh dengan tantangan. Cerita larinya aku setelah membunuh Ayah tiri dan menjadi pembantu rumah tangga Lela jelas memahami keadaanku.

“Jadikan ini rahasiamu. Masalalu surammu adalah kelemahanmu. Biar aku saja yang tahu tentang kehidupanmu.” Lela memberikan kehidupan yang lebih jauh indah dari apa yang pernah aku rasakan ketikan Bapak masih hidup.

“Siti, kau adalah gadis pemberani. Jangan pernah kau sesali apa yang pernah kau alami semasa hidupmu. Jadikan semua itu motivasi untuk meraih kehidupan yang lebih baik.” Ungkap Nadia di tengah-tengah perjalanan keberangkatannya ke Jepang untuk melanjukan studinya.

Lela aku ibarakan sebuah berlian yang sangat berharga. Ia harta berharga yang aku miliki. Sahabat yang benar-benar mengubahku menjadi manusia berguna. Ku peluk erat tubuh Lela, kebaikan yang tak pernah ada batasnya untuk aku tukar dengan apapun.

“Ada ribuan manusia baik yang sanggup menolong. Jika, apa yang kau perbuat hanya untuk sebuah kebaikan.”

Semarang, 08/10/2016

Dewi Ayu

Komen Artikel