LIDAH

“Itu semacam lidah. Entah, lidah manusia atau lidah buaya. Terasa tajam, melebihin tajamnya pisau.”

Gendis menatap murung kearah dua manusia yang sedang beradu kata. Semua sudah berupa paragraf tanpa tanda koma, tanpa tanda titik. Tak ada kemenangan dan tak ada kekalahan. Paragraf itu lantang berujar pada bait kemenangan masing-masing.

“Anjing!,”

“Kau yang anjing!,”

“Sundel!”

“Kau yang sundel!,”

Setan!

“Kau yang setan!”

“Bajingan!,”

“Kau yang bajingan!,”

Gendis terus menatap, seolah tak lagi ada detik ia berkedip. Daun telingan melebar, selebar kuping gajah. Tiada jedah untuk bernafas.

“Aku tahu, kau sumber dari permasalah ini?,”

“Enak saja! Memang kau suci?”

“Kau menantangku?,”

“Iya! Aku tak takut denganmu!,”

Tiada gerak untuk tubuh menjauhi. Ia tajam! Setajam pisau yang siap membunuh siapapun yang mendekat. Gendis semakin diam, tubuh kaku, keringat dingin berlautan, nafas mulai tersendat-sendat. “Matilah aku! Aku sumber dari semua ini. Matilah aku! Aku yang membuat ini semakin ruyam.”

“Hai, apa kau sumber semua ini?,” Ia mendekat kearah Gendis.

“Bukan! Aku tak tahu apa-apa,” Gendis menjawab kaku.

“Bohong ini semua lidahmu! Tak mungkin orang diluar sana tahu. Aku hanya bercerita penuh kepadamu!,” Ia semakin mendesak.

“Aku tak berbicara berlebihan.”

“Bohong. Dia punya bukti! Bukti dari lidahmu!”

Gendis semakin tak bergerak. Tubuhnya kaku. Ingin ia lupakan tangis jerit kemarahannya. Ia ingin berucap “Ya, aku menceritakan semua. Aku yang membantu. Aku yang membuatnya tahu segala hal tentang kebusukanmu! Tentang kemunafikanmu!” Gendis diam pada sebuah penyesalan. “Lidahku! Ini salah lidahku! Benciku! Ini salah benciku,”

“Salah aku ingin menolongnya, darimu? Salah aku menolongnya?,” Gendis terlihat pasrah.

“Salah! Lidahmu terlalu jujur!”

Semarang, 31 Agustus 2016

1 comments On LIDAH

Komen Artikel