Cerita Dibalik Hujan #2

0

Turun-lah hujan, sampailah aku di depan resto alam indah. Dua hari yang lalu dia mengajakku meluangkan waktu untuk sekedar menikmati secangkir kopi. Aku langsung saja setuju dengan ajakan pertemuan ini, “Alam Indah” dia memastikan tempat kita akan berjumpa. Bulan Februari ini tepat dua tahun aku dan dia sepakat untuk berpisah. Jika kembali mengingat perpisah itu rasanya sungguh hal yang kekanak-kanakan. Aku dan

Teruskan Baca

LELA

0

Aku mulai nyaman dengan pekerjaan ini. Sudah tiga tahun ini aku menjalankan pekerjaan yang hanya bermodal jasa dan penampilan. Beberapa pekerjaan sebelumnya kurang aku sukai, otak dan energi tubuh terkuras habis. Maklum, sebelumnya aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Harus membersihkan rumah majikan yang luasnya hampir sama dengan gedung senayan. Lalu, mengurus dua anak majikan yang sangat menyebalkan. Dua bulan aku bekerja

Teruskan Baca

LIDAH

0

“Itu semacam lidah. Entah, lidah manusia atau lidah buaya. Terasa tajam, melebihin tajamnya pisau.”

Gendis menatap murung kearah dua manusia yang sedang beradu kata. Semua sudah berupa paragraf tanpa tanda koma, tanpa tanda titik. Tak ada kemenangan dan tak ada kekalahan. Paragraf itu lantang berujar pada bait kemenangan masing-masing.

“Anjing!,”

“Kau yang anjing!,”

“Sundel!”

Teruskan Baca

Penyuka Bunga-Bunga

0

Suatu hari tanpa sepengetahuan Bapak aku menemui Bang Damar. Ya. Sudah lebih dari enam tahun Bang Damar memilih pergi dari rumah. Aku tak tahu persis alasan apa yang membuat Bang Damar memilih pergi dari rumah. Jelas Bapak marah sekali dengan keputusan Bang Damar, sedangkan Ibu tak bisa banyak pembelaan untuk anak pertamanya. Aku empat bersaudara Bang Damar adalah anak pertama, satu-satunya anak

Teruskan Baca

Menebalnya Sakit Yang Pernah Kau Ciptakan

0

Mempercayaimu! Sama saja aku membunuh hati yang telah aku usahakan untuk mencintaimu. Terbiasa tanpamu. Terbiasa tidak mempercayaimu. Semua aku lakukan untuk membunuh sakit yang terlanjur mendaging di relung hatiku. Mungkin, saat ini sakit itu sudah menyerupai gumbalan tumor ganas yang bisa saja menghentikan deyutan jantungku. Menghambat seluruh udara dari lubang hidungku. Aku sakit dengan hal itu.

Butuh tenaga ekstra untuk

Teruskan Baca

Hujan Legetan

0

“ Aku dan beberapa teman semalam tidur di masjid, mas. Baru tahu kabar longsor jam tiga pagi.” Salah satu pernyataan penduduk yang menjadi saksi kejadian musibah tanah longsor. Baru tiga hari ini aku menjadi wartawan di salah satu kantor redaksi Semarang,  awal pertama aku ditugaskan untuk meliput berita bencana di dukuh Legetan,  desa Pekasiran, kecamatan Batur, Banjarnegara.

Sisa basah hujan

Teruskan Baca

Tawang

0

Belajar dari sebuah kedamaian air di danau Tawang. Malam ini aku menghabiskan waktu dengan tubuh penuh penyesalan, penuh kekecewaan. Bagiku malam ini malam kedua yang teramat menyakitkan. Seorang wanita yang tak berani untuk memaksa sebuah belas kasih, hanya mampu menahan pasrah. Setidaknya aku tahu bagaimana sakitnya mengharap sesuatu yang tak pernah menjadi nyata. Menangis sekencangnya, mendayu bersama laju kereta api yang berhasil

Teruskan Baca

Sang Malam

0

“ Datanglah, temui aku sampai sang malam telah menjelma pagi. Dan kau boleh pergi, lalu tak mencintaiku lagi setelah ini.”

Aku duduk menatap hambaran langit penuh parade bintang. Malam ini aku kembali mengenang sosok lelaki yang kerap datang bersama sambutan sang malam. “ Apa kau masih ingat, kau kerap datang dan mengajakku menikmati gemercik angin dengan parade bintang menemani sang

Teruskan Baca

Tiang dan Tali

0

Lelaki itu terus saja mencari cara untuk berjumpa denganku. Entahlah, apa ia pernah berpikir kalau aku sudah sangat bosan dengannya. Apa tidak ada manusia lain? Kenapa harus aku?. Dari arah pintu masuk diskotik aku terus menatapnya, sampai pada akhirnya ia tepat dihadapanku. Kebulan asap mengawali senyumnya. Aku tahu ini senyum palsu untukku. Kali ini aku akan mendengarkan ia dengan segala macam omong

Teruskan Baca

Sebaris Kata Pada Semesta Yang Berbisik

0

Dan aura mulai berkata “betapa menggigil tubuhku mendengar lirih yang membelah angin lewat kedua telinga ini” kedua jemari beriring meronta memanggil kisaran langit yang menjulang luas, diantara bintang dan bulan memulai untuk pancarkan sinarnya dalam derai kata. Racun mematikan terlalu lama menekan semenanjung hati, melemahkan, memudar dan mulai menggerogoti alam kefasikan. Keyakinan-keyakinan itu mulai kau tebas, bersama harapan dan halimun yang tak

Teruskan Baca