Perkara Duniawi!

0

Wanita cantik berkulit putih itu tercengah melihat kedatangaku secara tiba-tiba. Aku memang tidak memberi kabar akan kedatangku ke rumahnya. Lebih dari 15 tahun aku memang tidak pernah memberi kabar kepadanya, datang kerumahnya pun tidak aku sempatkan. Sejak aku memilih tinggal bersama kedua orangtuaku.

“ Kena angin apa ko’ maring ngene? Nyong mbatin wes kelalen karo nyong!”

Aku membalas

Teruskan Baca

Tradisi Berdialog

0

Tradisi manusia kesakitan, seperti tidak akan ada habisnya untuk sebuah kesakitan. Jika, ia tumbuh bersama dengan ketidak keyakinan. Benar-benar memuakan. Pada ujung senja di bulan ke lima, aku harap ini bagian akhir untuk sebuah kesakitan. Aku perhatikan lingkaran merah pada kalender angka akhir di bulan ke lima. Hidupku benar-benar telah berubah, tak lagi ada secarik kertas putih bersama coretan tinta, tak lagi

Teruskan Baca

Mencintaimu, Kebahagiaku

0

Aku sangat sadar bahwa akulah yang terlebih dahulu jatuh cinta kepadamu. Bukan kau yang terlebih dahulu jatuh cinta kepadaku. Aku yang selalu mencari cara jitu untuk mendapatkan perhatianmu penuh, yang sebenarnya itu membuatmu repot dan mungkin bisa jadi bosan kepadaku. Aku selalu ingin melalukan segala hal yang mampu membuatmu melirik kepadaku, bukan kepada mereka yang selalu ingin di dekatmu. Itulah aku, dengan

Teruskan Baca

Teramat Menyebalkan Sampai Kau Memilih Untuk Diam

0

Aku terlalu lancang menempatkanmu di dalam otakku. Tanpa seijinmu, aku telah menjadikanmu bagian dari kesibukanku. Bahkan setiap hari aku butuh energi ekstra untuk memikirkanmu. Ya, aku terlalu sibuk memikirkanmu. Sampai aku lupa, pekerjaanku tertumpuk diam di meja. Aku yang terlalu sibuk dengan isi otak tentang kau, sedang di mana kau? Apa sudah makan? Sudah ibadah? Kenapa susah dihubungi?.

Karena itu,

Teruskan Baca

Kembang Api Nala

0

Sepulang sekolah Nala berniat menemui simak di pasar. Teman-temannya mengajak Nala melihat kembang api di alun-alun kota. Nala sepanjang jalan memikirkan kalimat apa yang pantas untuk memulai permintaan ijin kepada simak. Sejak dulu setiap Nala ingin melihat kembang api, simak selalu melarang. Alasanya selalu sama berbahaya “ Ndok, ndak usahlah kamu nonton kembang api. Mending bantuin simak bungkus tempe. Itu sudah dapat

Teruskan Baca

Sekedar: Ala Kadar

0

Tidak ingin menyalahkan sebuah masa lalu pahit yang terus terkenang. Terlalu pahit untuk diingat dan terlalu susah untuk dilupakan. Warna abu-abu yang semakin membuat pilu menambah barisan luka dalam perjalanan mencari sebuah takdir untuk mencintai dan takdir untuk dicintai. Bagaimana bisa manusia bercinta dengan embel-embel tidak mencintai lalu terikat dengan tali pernikahan. Bodoh jika manusia itu menikah tanpa embel-embel cinta.

Teruskan Baca

Wanita dan Benang Masa Lapuk

0

Namaku Retno Puspa Sari. Orang-orang di kampungku memanggil namaku dengan sebutan Sari pengkong. Dari kecil aku terbiasa dengan panggilan Sari pengkong. Usiaku kini sudah dua puluh tahun. Aku sudah kuliah di Program Studi Kedokteran. Dengan jalur beasiswa aku dapat menikmati bangku perkuliahan di Universitas Negeri di Jogja. Tiga tahun aku tinggal di Jogja. Rindu dengan kampung halaman pun selalu menghantui hatiku. Meninggalkan

Teruskan Baca

Maya menciptakan Cinta

0

Semarang, 07 Juli 2015. Gadis itu datang menyapaku dengan senyum lesung pipi teramat manis. Aku tak ingin melewatkan detik mendekat langkahnya untuk semakin dekat kearahku. Memang tidak butuh waktu lama menunggu kehadirannya. Janji berjumpa sudah terencana lebih dari dua minggu. Hari ini, sisa hujan masih basah menempel pada jalan aspal penuh lalu lalang manusia. semangkok wedang rode menghangatkan perjumpaan kali ini. Malam

Teruskan Baca

Kegilaan Tanpamu

0

Kegilaan yang sempat aku rasakan, saat aku menerima kenyataan kau telah pergi jauh dari kehidupanku. Keputusan untuk meninggalkanku yang kau pilih. Melepas bebas semua cinta yang telah aku dekap penuh kesetian. Aku memang terlalu besar berharap memilikimu seutuhnya, hingga aku tidak pernah membayangkan akan kehilangmu untuk selamanya. Kesetian yang terlalu sempurna aku berikan kepadamu, membuat aku yakin kau pun akan selalu tulus

Teruskan Baca

Empat Rasa Yang Pernah Menebal

0

Kau tahu rasanya diabaikan? Kau tahu rasanya ditinggalkan? Kau tahu rasanya kesepian? Kau tahu rasanya kejenuhan? Empat rasa yang lengkap aku nikmati setelah kepergianmu dari hatiku. Awalnya aku merasa tidak sanggup hidup dengan empat rasa yang kau hadiahkan. Ya, aku akui terlalu lemah untuk aku menikmati segala kenangan tentangmu.

Sepanjang jalan Malioboro. Aku berdamai dengan semua kenangan tentangmu. Keberanianku untuk

Teruskan Baca